DASAR DAN PRINSIP FIQIH IBADAH

Photo of author
Written By Hilda Nur Maziyah

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur pulvinar ligula augue quis venenatis. 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1.1 Latar Belakang. 1

1.2 Rumusan Masalah 1

1.3 Tujuan. 1

1.4 Manfaat 2

BAB II PEMBAHASAN.. 3

2.1 Pengertian Fiqih Ibadah. 3

2.2. Dasar Hukum Ilmu Fiqih. 4

2.3. Macam-macam Ibadah. 6

2.4. Tujuan Ibadah. 7

BAB III PENUTUP.. 9

3.1 Kesimpulan. 9

3.2 Saran. 9

DAFTAR PUSTAKA.. 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ibadah merupakan perkara yang perlu adanya perhatian, karena ibadah itu tidak bisa dibuat main main apalagi disalahgunakan. Dalam islam ibadah harus berpedoman pada apa yang telah Allah SWT perintahkan dan apa yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad SAW kepada umat yang telah dilandaskan pada kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW berupa kitab suci al-Qur’an dan segala perbuatan, perkataan dan ketetapan Nabi SAW atau disebut dengan hadist Nabi. Umat Islam tentunya mengetahui apa itu ibadah dan bagaimana cara pelaksanaan ibadah tersebut. Islam harus mengikuti ibadah yang di contohkan dan dilakukan oleh Nabi SAW, dan tidak bileh membuat ibadah yang tidak berdasar pada al-Qur’an dan Hadis. Dalam tulisan ini, akan dikaji tentang bagaimana Fiqih Ibadah dan Prinsip Ibadah daalm Islam yang sesuai dengan al-qur’an dan hadis.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian fiqih ibadah?
  2. Apa dasar hukum ilmu fiqih?
  3. Apa macam- macam fiqih ibadah?
  4. Apa tujuan dari ibadah?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui pengertian fiqih ibadah.
  2. Mengetahui dasar hukum fiqih ibadah.
  3. Mengetahui macam-macam fiqih ibadah.
  4. Mengetahui tujuan ibadah.

1.4 Manfaat

Berdasarkan tujuan makalah, manfaat makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagi penulis makalah, sebagai pemenuhan tanggung jawab dan pembelajaran materi mengenai dasar dan prinsip fiqih ibadah.
  2. Bagi seluruh pembaca, untuk menambah wawasan tentang dasar dan prinsip fiqih ibadah.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Fiqih Ibadah

Ibadah adalah salah satu perilaku ritual keagamaan yang pentimg bagi pemeluk suatu agama. Ibadah ini juga seperti peroses penyatuan jiwa dan pikiran dalam diri manusia untuk mendekatkan diri kepada seorang pencipta.  Secara bahasa kata fiqih dapat diartikan al-ilm,artinya ilmu, dan al fahm, artinya pemahaman. Jadi fiqih dapat diartikan ilmu yang memdalam. Jadi fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah SWT yang berhubungan dengan segala amaliyah mukalaf baik yang wajib ,sunnah,mubah makruf atau haram yang di gali dalil-dalil yang jelas. 

Menurut etimologi, kata fiqih berasal dari bahasa Arab “al-fahmu” yang berarti paham. Sedangkan menurut terminologi, fiqih pada mulanya berarti pengetahuan keagamaan yang mencakup seluruh ajaran agama, baik berupa akidah, ahlak, maupun amaliyah ( ibadah), yakni sama dengan arti syariah islamiyyah. Namun, pada perkembangan selanjutnya, fiqih diartikan sebagai bagian dari syariah islamiyyah, yaitu pengetahuan tentang hukum syariah islamiyyah yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang telah dewasa dan berakal sehat yang diambil dari dalil dalil yang terinci. Selain itu, Wahbah az-Zuhaili juga mengutip ulama kalangan Syafi’iyyah yang mendefinisikan al-fiqh yang artinya: “pengetahuan tentang hukum syarayang berhubungan dengan amal perbuatan yang digali dari dalil yang terperinci.”

Pengertian ibadah dalam ungkapan yag berbeda-beda sebagaimana yang telah dikutip, pada dasrnya memiliki inisil, yakni masing-masing bermuara pada pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT. maka, tampak bahwa ada beberapa tema yang memiliki makna sama dengan ibadah itu sendiri yang ditemukan didalam al-Qur’an, antara lain:

  1. Al-ta’ah, pada dasarnya kata al-ta’ah ini mengandung arti senantiasa, menurut, tunduk dan patuh terhadap Allah SWT dan rasul-Nya.
  2. Khada’a pada dasarnya kata khada’a mengandung arti merendahkan dan menundukkan.
  3. Az-Zulli/ al-Zillah kata ini dapat berarti kerendahan atau kehinaan.

Fiqih adalah hukum islam yang tingkat kekuatannya hanya sampai zan, karena ditarik dari dalil-dalil yang zanny. Bahwa hukum fiqih itu adalah zanny sejalan pula dengan kata “al-muktasab” dalam definisi tersebut yang berarti “diusahakan” yang mengandung pengertian adanya campur tangan akal pikiran manusia dalam penarikannya dari al-qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Sementara ibadah secara bahasa berarti patuh (al-tha’ah), dan tunduk (al-khudlu). Ubudiyah artinya tunduk dan merendahkan diri. Menurut al-Azhari, kata ibadah tidak dapat disebutkan kecuali untuk kepatuhan kepada Allah SWT.

Ibadah dalam arti umum adalah segala perbuatan orang islam yang halal yang dilaksanakan dengan niat ibadah. Sedangkan ibadah dalam arti yang khusus adalah perbuatan ibadah yang dilaksanakan dengan tata cara yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Ibadah dalam arti yang khusus ini meliputi thoharoh, shalat, zakat, shaum, hajji, kurban, aqiqah, nadzar dan kifarat.

Dari pengertian diatas jika digabungkan, maka fiqih ibadah adalah ilmu yang menerangkan tentang dasar-dasar hukum-hukum syar’i khususnya dalam ibadah khas seperti meliputi thaharah, shalat, zakat, shaum, hajji, kurban, aqiqah dan sebagainya yang kesemuanya itu ditunjukkan sebagai rasa  bentuk ketundukan dan harapan untuk mencapai ridha Allah SWT.

2.2. Dasar Hukum Ilmu Fiqih  

Ulama fiqih membagi hukum fiqih dengan pembagian sebagai berikut:

  1. Hukum yang berkaitan dengan ibadah mahdhah (khusus) atau hukum yang mengatur  hubungan seorang hamba dengan tuhannya.

Contoh: sholat, puasa, haji,dan zakat

  • Hukum yang berkaitan dengan intraksi manusia dengan sesamanya dalam upaya memenuhi kebutuhan material dan hanya masing-masing

Contoh:  jual beli

  • Hukum yang berkaitan dengan ahwal syakhsiyah atau kehidupan peribadi seseorsng dalam hal ini adalah kehidupan keluarga

Contoh: pernikahan, perceraian, rujuk, iddah,dan lain-lain

  • Hukum yang berkaitan dengan jarimah, jinayah atau uquubah atau tindak pidana dan kosekuensinya.

Contoh: pembunuhan, pencurian dan lain-lain

  • Hukum yang berkaitan dengan persoalan peradilan dan penyelesaian perkara hak dan kewajiban sesama manusia

contoh : musyawarah

  • Hukum yang berkaitan dengan masalah pemerintahan dan yang mengatur hubungan antara penguasa dan rakyatnya

Contoh : keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab.

  • Hukum yang mengatur hubungan antar negara dalam keadaan perang dan damai
  • Hukum yang berkaitan dengan persoalan akhlak dan etika

Contoh :sopan santun, menghormati orang tua.9

Dasar hukum ilmu fiqih ibadah itu ada 4:

  1. Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril yang terdiri dari 6666 ayat, 114 surrah, 30 jus, diawali dengan surah al-fatihah dan di akhiri denga surah an-nas. Contoh dasar hukum fiqih dalam al-Qur’an dalam surah al-baqarah : 43

     . وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ.

Artinya: “Dan laksanakan shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.”(QS. Al-baqarah: 43).

  • Sunnah adalah perkataan, perbuatan, ketetapan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun macam-macam sunah yaitu ada 3
  • Sunnah qauliyah yaitu suatu perktaan nabi atau sunnah ini biasa dinamai khabar. Adapun contohnya perkataan nabi tentang keutamaan belajar dan mengajarkan al qur’an

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وعَلَّمَ                                
Artinya: “Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya kepada orang lain,” (HR Bukhari).

  • Sunnah fi’liyah yaitu suatu perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diketahui sahabat nabi dan disampaikan kepada orang lain. Seperti wudhu yang dipraktekkan oleh nabi muhammad.
  • Sunnah Taqririyah yaitu perbuatan atau ucapan yang dilakukan sahabat dihadapan nabi tapi nabi hanya diam saja dan tidak mecegahnya.
  • Ijma’ adalah kesepakatan para ulama untuk membuat suatu hukum. Menurut para ahli usul fiqih pengertian ijma’ dapat dikemukakan sebagai berikut:
  • Imam al-Ghazali yang menyatakan dalam kitab al-musthofa bahwa ijma’ merupakan suatu kesepakatan umat Nabi Muhammad SAW. Atas satu perkara yang berhubungan dengan urusan agama.
  • Imam al-Subkhi dalam kitabnya Matm jami’ al-jawawi, mengungkapkan bahwa ijma’ ialah suatu kesepakatan para mujtahid setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Terhadap persoalan yang berkaitan dengan hukum syarah.
  • Qiyas adalah menyamakan hukum yang ada dalam al-Qur’an dibuat landasan karena al-Qur’an sifatnya masih mujmal atau global. Rukun qiyas terbagi menjadi 2 yaitu
  • Ashl atau pokok adalah suatu peristiwa yamg sudah ada nasnya yamg dijadikam tempat meqiaskan.
  • Far’u atau cabang yaitu peristiwa yang tidak ada nasnya.
  • Hukum asl yaitu hukum syarak yang ada nasnya pada al asl (pokok) nya, dan dimaksud untuk menjadi hukum pada al far’u (cabangnya).
  • Al illat yaitu suatu sifat yang dijadikan dasar untuk membentuk hukum pokok, dan berdasarkan adanya keberadaan sifat itu pada cabang (al far’u), maka ia disamakan dengan pokoknya dari segi hukumnya.

Macam-macam qiyas ada 3

  1. Qiyas al aulawi yaitu berlakunya hukum furuk lebih besar daripada asl. Contohnya berkata “uf” pada orang tua.
  2. Qiyas al musawi yaitu berlakunya hukum furuk dengan asl itu sama. Contohnya: memakan harta anak yatim.
  3. Qiyas al-adna yaitu berlakunya hukum furuk lebih lemah daripada asl.

Contoh: curangnya penjual mengurangi timbangan.

2.3. Macam-macam Ibadah

Macam-macam ibadah dilihat dari ruang lingkupnya ada dua yaitu:

a. Ibadah khassah yaitu ketentuan dan cara-Nya sudah ditentukan oleh nash (yang sudah ditetapkan dalam al-Qur’an)

Contoh: Shalat, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya.

b. Ibadah ammah yaitu perbuatan baik yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

Contoh: makan, minum, adil, berbuat baik.

Macam-macam ibadah dilihat dari bentuk dan sifat, ibadah ada empat, yaitu:

  1. Ibadah berupa perkataan.

Contoh: dzikir, tahmid, tahlil, menyauti orang brersin dan lain sebagainya.

  • Ibadah berupa perbuatan.

Contoh: menolong orang jatuh, merawat mayat, berjihad dijalan Allah SWT.

  • Ibadah yang  berupa menahan diri dari mengerjakan suatu pekerjaan.

Contoh: puasa, dalam ibadah ini kita harus menahan diri dari maka, minum dan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa.

  • Ibadah yang bersifat menggugurkan hak.

Contoh : membebaskan orang yang berhutang, memaafkan kesalahan dari orang bersalah.

Macam-macam ibadah dilihat dari waktu dan keadaan:

  1. Muadda’ yaitu ibadah yang dikerjakan dalam waktu yang ditetapkan oleh syara’

    Contoh: Shalat 5 waktu.

  • Maqdi yaitu ibadah yang dikerjakan setelah melampaui batas waktu yang ditentukan syara’ ibadah ini bersifat sebagai pengganti yang tertinggal. Pelaksanaan ini disebut dengan qodho’.
  • Mu’ad yaitu ibadah yang di ulang sekali lagi untuk mencapai kesempurnaan.

    Contoh: melaksankan shalat berjama’ah sesuai dengan waktunya dan setelah itu melakukan shalat munfarid pada waktu yang sama.

  • Mutlaq yaitu ibadah yang sama sekali tidak dikaitkan waktunya oleh syara’ dengan sewaktu-waktu yang terbatas.

    Contoh: membayar kafarat bagi yang melanggar sumpah.

  • muhaddad yaitu ibadah yag dibatasi kadarnya oleh syara’.

    Contoh: shalat fardhu dan zakat.

  • Ghoiru muhaddad yaitu ibadah yang tidak dibatasi kadarnya oleh syara’.

     Contoh: memberi makan orang yang kurang mampu.

  • Murattab adalah ibadah yang harus dikerjakan secara tertib.

    Contoh: melaksanakan puasa ramadhan, dan shalat 5 waktu.

  • Ma yaqbal al-taqhzir wa la yaqbal al-taqdim adalah ibadah yang tidak bisa dilambatkan dan tidak dapat didahulukan dari waktunya.

    Contoh: shalat dzhuhur, shalat magrib dan puasa.

  1. Ma yaqbal al-taqdim wa la yaqbal al-ta’khir adalah ibadah yang boleh didahulukan dari waktu yang ditentukan, tetapi tidak boleh ditunda dari waktu yang ditentukan.

     Contoh: shalat asar, dan shalat isya’

  • Ma yajibu ‘ala al-tarakhi adalah ibadah yang boleh dilambatkan melaksanakannya.

    Contoh: nadzar yang mutlak dan kaffarat.

            2.4. Tujuan Ibadah

      Ibadah mempunyai 2 tujuan yaitu tujuan pokok dan tujuan tambahan. Tujuan pokok ibadah yaitu menghadapkan diri kepada Allah SWT dan mengkonsentrasikan niat kepada-Nya dalam setiap keadaan. Dengan adanya tujuan ini seseorang dapat memperoleh derajat yang lebih tinggi di akhirat. Sedangkan tujuan tambahan yaitu agar terciptanya kemaslahatan diri manusia serta terwujudnya usaha yang baik. Contoh: sholat dapat di syari’atkan pada dasarnya yang bertujuan untuk menundukkan diri kepada Allah SWT dengan Ikhlas, mengingatkan diri dengan berdzikir. Sedangkan tujuan tambahannya adalah untuk menghindarindarkan diri dari perbuatan keji dan  mungkar. Selain untuk menghindari diri dari kemungkaran dan ke kejian masih banyak tujuan lain yang dapat di wujudkan melalui ibadah shalat, seperti beristirahat dari kesibukan dunia, membantu dalam memenuhi kebutuhan, membawa seseorang masuk surga dan menjauhkannya dari neraka.

      Selain itu yang sudah disebutkan diatas tujuan ibadah adalah untuk membersihkan, mensucikan hati serta untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Serta mengharap ridho Allah SWT. Sehingga ibadah di samping bersifat ukhrawi juga untuk kepentingan diri sendiri, keluarga maupun lingkungan masyarakat.

      Tujuan ibadah itu sendiri yaitu adalah taqwa. Dalam QS. al-Baqarrah (2): 21. Nampak jelas ada kata “taqwa” dan “pemeliharaan diri”. Taqwa adalah menjauhkan (memelihara) diri dari siskaan Allah SWT dengan jalan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya karena ada perasaan takut dari siksaannya tersebut. Melaksanakan ibadah dengan baik dan tekun, maka seseorang hamba akan mencapai derajat taqwa. Sebagaimana juga yang telah singgung bahwa Allah SWT. Sebagai tuhan satu-satunya yang maha pemelihara dan menciptakan manusia, dalam QS. al-Baqarrah (2): 1-4, ditemukan empat kriteria orang-orang yang bertaqwa, yakni: berman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rizki yang diberikannya, beriman dengan kitab suci al-Qur’an dan kitab-kitab suci lainnya yang telah di turunkan Allah SWT, serta beriman kepada hari akhirat.

      Selain itu ismail muhammad syah menyebutkan dan mengutip pendapat abbas al aqqad bahwa tujuan pokok meliputi:

  1. Mengingatkan manusia akan unsur ruhani dalam dirinya, yang memilikikebutuhan-kebutuhan yang berbeda dengan jasmaniyahnya.
  2. Mengingatkan manusia bahwa dinalik kehidupan yang fana ini masih ada lagikehidupan yamg kekal dan abadi.

     Republik indonesia nomor 2 tahun 2008,adalah tujuan membekali peserta didik adar dapat

  1. Mengetahu dan memahami prinsip-prinsip,kaidah-kaidah dan tata cara pelaksanaan hukum islam baik yang menyangkut ibadah maupun muamalah untuk di jadikan pedoman hidup dalam kehidupan peribadi dan sosia.
  2. Melaksanakan dan mengamalakan ketentuan hukum islam dengan benar dan baik,sebagai perwujutan dari ketaatan dalam menjalankan ajaran agama islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusian itu sendiri, sesama manusia, dan makhluk lainya maupun hubungan dengan lingkungannya.

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Fiqih ibadah adalah ilmu yang menerangkan tentang dasar-dasar hukum-hukum syar’i khususnya dalam ibadah khas seperti meliputi thaharah, shalat, zakat, shaum, hajji, kurban, aqiqah dan sebagainya yang kesemuanya itu ditunjukkan sebagai rasa  bentuk ketundukan dan harapan untuk mencapai ridha Allah SWT.

  Dasar hukum ilmu fiqih ibadah itu ada 4:

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui malaikat Jibril. Hadis  adalah perkataan, perbuatan serta ketetapan Nabi Muhammad SAW   Ijma’ adalah kesepakatan para ulama untuk membuat suatu hukum. Qiyas adalah menyamakan hukum yang ada dalam al-Qur’an dibuat landasan karena al-Qur’an sifatnya masih mujmal atau global.

Ibadah mempunyai 2 tujuan yaitu tujuan pokok dan tujuan tambahan. Tujuan pokok ibadah yaitu menghadapkan diri kepada Allah SWT dan mengkonsentrasikan niat kepada-Nya dalam setiap keadaan. sedangkan tujuan tambahan yaitu agar terciptanya kemaslahatan diri manusia serta terwujudnya usaha yang baik.

3.2 Saran

Dengan disusunnya makalah ini, saya berharap agar pembaca dapat memahami dan mengetahui tentang Dasar dan Prinsip Fiqih Ibadah. Sehingga dapat menambah wawasan bagi pembaca. Saya menyarankan agar materi tentang dasar dan prinsip ibadah ini, bisa diterapkan di kehidupan bermasyarakat, dan juga bisa menjadi pembelajaran anak-anak sekolah dasar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul kallang. 2002. Konteks ibadah menurut al-Qur’an. Jurnal iain negeri bone, hal11.

Abidin zaenal. 2020. Fiqih ibadah. Yogyakarta. Hal 8

Abror, khairul. 2019. Fiqih ibadah. Lampung: arsasa pratama bandar lampung.

Arifin syamsul, sari narulita. 2013. Latar belakang mahasiswa dalam memahami fikih.

                        Jurnal setudi al-qur’an. Jakarta. Vol 9. Hal .36

Asrowi. 2018. Ijmak dan qiyas dalam hukum islam. Jurnal aksioma al-musaqah, vol I. Hal

                        30.

Edwar ahmad. 2019. Pengaruh pembelajaran ilmu fiqih dalam persepektif kesehatan

                        reproduksi. Jurnal pendidikan agama islam. Seragen. Vol 6.Hal 103 

Fahmi, M. Triyanto,dan muslimah. 2019. Komplikasi fiqih ibadah milenial. Bogor.

                        Guepedia.

Husna khotimatul, muhamad arif. 2021. Ibadah dan praktiknya dalam masyarakat. Jurnal

                        setudi pendidikan. Vol 4. Hal 144.

Idah suaidah. 2012. Ibadah dalam al-Qur;an. Jurnal inspiratif pendidikan. Vol 3. hal 168

Rachmawan hatib. 2012. Fiqih ibadah dan prinsip ibadah dalam islam. Lembaga

                        pengembangan studi islam

Ritonga, a. Rahman, zainuddin. 2002. Fiqih ibadah. Jakarta. Gaya media, pratama  

Rohmansyah. 2017. Fiqih ibadah dan mu’amalah. Yogyakarta: lembaga penelitian,

publikasi dan pengabdian masyarakat.

Syuhadah, harjan, sungarso . 2019. Fiqih madrassah aliyah. Jakarta : bumi aksara

Yakin, ainul. 2018. Fiqih ibadah kajian komprensi tata cara ritual dalam islam.

Pamekasan jawa timur duta media.

Zulkifli.2004 . Fiqih dan prinsip ibadah dalam islam. Jurnal umt. Unuversitas

muhamadiyah. Tangerang  

Tinggalkan komentar