Jual Beli Emas Secara Kredit Menurut Perspektif Hukum Islam

Photo of author
Written By Muhammad Kholiq

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur pulvinar ligula augue quis venenatis. 

Jual beli emas secara kredit adalah akad perpindahan harta berupa emas dari seseorang kepada orang lain yang dilakukan dengan cara kredit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik jual beli emas secara kredit dalam produk Pembiayaan Cicil Emas di Bank Syariah Mandiri KCP Bogor Sudirman serta menganalisis bagaimana hukum jual beli emas secara kredit menurut perspektif hukum Islam.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif deskriptif, dengan mengkaji berbagai macam literatur dan mengkritisi permasalahan yang ada di lapangan jika kontrak penjualan dan penjualan dilakukan secara kredit dalam konteks emas sebagai mata uang. Kemudian penjualan dan hukum jual beli emas seharusnya hanya boleh memperdagangkan emas saat akad dalam bentuk tunai dan nilainya sama tetapi jika berstatus emas sebagai komoditi maka jual beli emas secara kredit hukumnya mubah.

Jual Beli Emas Kredit Menurut Hukum Islam
Jual Beli Emas Kredit Menurut Hukum Islam

I. Pendahuluan Tentang Jual Beli Emas Kredit Menurut Hukum Islam

Pemikiran Islam diawali sejak Muhammad SAW dipilih sebagai seorang Rasul (utusan Allah), Rasulullah SAW mengeluarkan sejumlah kebijakan yang menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan hidup masyarakat, selain masalah hukum fiqih, politik juga masalah perniagaan atau ekonomi muamalah.

Masalah ekonomi menjadi perhatian Rasulullah SAW karena masalah ekonomi adalah pilar keimanan yang perlu diperhatikan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim al-ishfahani dalam kitabnya hilyah al-auliya, Rasulullah SAW bersabda, “kemiskinan membawa orang kepada kekafiran”. Maka upaya untuk mengentas kemiskinan merupakan bagian dari kebijakan-kebijakan sosial yang dikeluarkan Rasulullah SAW. Selain itu, kebijakan Rasulullah SAW menjadi pedoman/panduan bagi penggantinya, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib ketika memutuskan masalah ekonomi. Al-Qur’an dan Al-Hadist digunakan sebagai dasar teori ekonomi oleh para khalifah juga digunakan oleh para pengikutnya dalam menata kehidupan ekonomi negara.

Sistem ekonomi Islam merupakan suatu rahmat yang tak ternilai harganya bagi umat manusia. Apabila sistem tersebut dilaksanakan secara menyeluruh dan sesuai dengan ajarannya, maka sistem ini akan menjadi sarana yang sangat berguna bagi kemajuan ekonomi masyarakat. Namun demikian, demi suksesnya pengoperasian sistem ini, maka mutlak diperlukan landasan ajaran dan ajaran Islam. Pengoperasian sistem ini mempunyai hubungan yang erat dengan ajaran agama, ideologi dan budaya Islam sehingga tidak boleh terpisahkan dari landasan agama.

Kebangkitan kembali ilmu ekonomi Islam merupakan sebuah jawaban atas kebutuhan terhadap ilmu ekonomi yang lebih humanis. Dengan memuat nilai-nilai ajaran Islam (al-Qur’an dan Hadits), ilmu ekonomi Islam diyakini akan mampu mensejahterakan umat manusia dengan lebih baik. Kaum mustadh’afin yang selama ini termarjinalkan oleh ilmu ekonomi konvensional dan terangkat harkat dan martabatnya.

Namun demikian, perkembangan ilmu ekonomi Islam sendiri belum seimbang. Di satu sisi, walaupun ditemukan beberapa penyimpangan dalam praktiknya perkembangan institusi ekonomi Islam sangat pesat. Sedangkan disisi lain, penggalian teori-teori ekonomi Islam masih kurang dan membuat perkembangannya relatif lambat. Keadaan ini tentu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi eksistensi ilmu ekonomi Islam saat ini dan perkembangannya di masa mendatang.

  1. Islam memandang jual beli merupakan sarana tolong menolong antara sesama manusia. Orang yang sedang melakukan transaksi jual beli tidak dilihat sebagai orang yang sedang mencari keuntungan semata, akan tetapi juga dipandang sebagai orang yang sedang memenuhi kebutuhan barang yang dibutuhkan pembeli. Sedangkan bagi pembeli, ia sedang memenuhi kebutuhan akan keuntungan yang sedang dicari oleh penjual. Atas dasar inilah aktivitas jual beli merupakan aktifitas mulia, dan Islam memperkenankannya.
  2. Kebutuhan masyarakat terhadap emas saat ini dijadikan sebagai salah salah satu alternatif investasi dan juga pemenuhan gaya hidup (fashion). Permintaan emas yang cukup tinggi saat dimanfaatkan oleh penguasa untuk menawarkan berbagai produk emas seperti perhiasan maupun emas murni dalam bentuk batangan. Sistem pembelian pun ditawarkan dengan cash maupun kredit, sehingga memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin memiliki emas yang diinginkan.

Praktik jual beli emas telah dilakukan pada zaman Rasulullah. Masyarakat menjadikan emas sebagai alat tukar menukar barang yang dibutuhkan, sehingga seringkali terjadi kecurangan jumlah dimana tukar menukar emas yang nilainya tidak sama atau pembayarannya dilakukan tidak secara tunai yang mengakibatkan kerugian pada pihak lain, sehingga rasulullah melarang praktek jual beli emas yang mengandung kecurangan dan riba dalam jual beli, sebagaimana tertuang dalam beberapa hadits tetang jual beli emas.

Jual Beli Emas Kredit Menurut Hukum Islam

II. Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Sesuai dengan judul dan fokus permasalahan yang diambil maka sifat penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Djam’an (2011: 22) yaitu penelitian yang menekankan pada quality atau hal yang terpenting dari sifat suatu barang atau jasa. Hal terpenting dari suatu barang atau jasa berupa kejadian/fenomena/gejala sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi suatu pengembangan konsep teori. Jangan sampai sesuatu yang berharga tersebut berlalu bersama waktu tanpa meninggalkan manfaat. Penelitian kualitatif dapat didesain untuk memberikan sumbangannya terhadap teori, praktis, kebijakan, masalah-masalah sosial dan tindakan.

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang obyeknya mengenai Jual beli emas secara kredit pada Produk Cicil Emas (CILEM) Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Bogor Sudirman (BSM KCP Bogor Sudirman) dan dipadukan dengan kepustakaan yang mana penelitian ini dilakukan di Bank Syariah Mandiri KCP Bogor Sudirman, kemudian dapat mengetahui bagaimana pandangan hukum Islam tentang Jual beli emas secara kredit yang ada pada BSM KCP Bogor Sudirman.

Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, digunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang menggambarkan fenomena-fenomena sosial. Penelitian ini memusatkan perhatian pada aspek-aspek tertentu dan sering menunjukkan hubungan variabel yang satu dengan variabel lainnya (Nasution, 2001: 24).

Menurut Sugiyono (2008: 13) “metode penelitian kualitatif disebut sebagai metode artistik, karena proses penelitiannya lebih bersifat seni dan disebut metode interpretif, karena data hasil penelitian lebih berkenan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan”.

Data atau Informasi dalam penelitian ini adalah data primer sebagai data utama dan sekunder sebagai data penunjang atau sebagai pelengkap data primer. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Untuk memudahkan pembahasan yang dirumuskan dalam skripsi ini dibutuhkan suatu metode penelitian, dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :

  1. Wawancara, merupakan pertemuan dua orang atau lebih yang saling bertukar informasi melalui tanya jawab untuk mendapatkan maksud dan tujuan dari suatu topik (Sugiyono: 2015) Wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara terstruktur dan semiterstruktur. Melalui wawancara terstruktur ini peneliti terlebih dahulu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dan dengan wawancara semiterstruktur peneliti lebih bebas bertanya untuk mendapatkan data di luar pertanyaan yang telah disiapkan. Berdasarkan cara ini, peneliti berusaha mendapatkan data lebih banyak tentang objek yang diteliti, sehingga akan mendapatkan gambaran permasalahn yang lebih lengkap. Wawancara ini dilakukan kepada karyawan Bank Syariah Mandiri KCP Bogor Sudirman yang mengerti seluk beluk pembiayaan Cicil Emas di Bank Syariah Mandiri KCP Bogor Sudirman.
  2. Observasi, adalah cara pengumpulan data sebagai sumber penelitian dimana peneliti harus mengamati kegiatan yang diteliti tersebut (Sugiyono, 2015: 227). Pada penelitian ini observasi dengan cara mempelajari bagaimana alur proses pembiayaan cicil emas dari awal transaksi sampai dengan selesai.
  3. Studi Dokumen tersebut dapat berupa tulisan dari kejadian masa lalu. Dokumen tersebut dapat berupa tulisan, gambar atau karya-karya seseorang. Dokumen yang berupa tulisan diantaranya yaitu catatan, sejarah, biografi dan kebijakan. Dokumen dalam bentuk gambar yaitu foto, sketsa dan gambar hidup. Sedangkan dokumen dalam bentuk karya yaitu benda, patung dan hasil karya seni lainnya. Studi dokumen ini bisa didapatkan peneliti melalui sampel dan objek yang diteliti.
    Teknik Analisis Data.
    Pada penelitian kualitatif ini, pengolahan data tidak harus dilakukan setelah data terkumpul atau pengolahan data selesai. Dalam hal ini, data sementara yang terkumpulkan, data yang sudah ada dapat diolah dan dilakukan analisis data secara bersamaan.
    Suyanto dan Sutinah (2006: 173), mengatakan bahwa pengolahan data dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan cara mengklasifikasikan atau mengkategorikan data menurut beberapa tema sesuai fokus penelitannya. Pengolahan data pada penelitian ini terdiri dari :
    1. Reduksi Data
      Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan lapangan (Miles dan Huberman, 1992: 16). Langkah-langkah yang dilakukan adalah menajamkan analisis, menggolongkan atau pengkategorisasian ke dalam tiap permasalahan melalui uraian singkat, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data sehingga dapat ditarik dan diverifikasi. Data yang direduksi meliputi seluruh data mengenai permasalahan penelitian. Data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih spesifik dan mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya, serta mencari data tambahan jika diperlukan. Semakin lama peneliti berada di lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak,semakin kompleks dan rumit. Oleh karena itu, reduksi data dilakukan, sehingga data tidak bertumpuk agar tidak mempersulit analisis selanjutnya.
    2. Penyajian Data. Setelah data direduksi, langkah analisis selanjutnya adalah penyajian data. Penyajian data merupakan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Miles dan Huberman, 1992: 17). Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisaikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga makin mudah dipahami. Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian naratif, bagan, hubungan antar kategori, serta diagram alur. Penyajian data dalam bentuk tersebut mempermudah peneliti dalam memahami apa yang terjadi. Pada langkah ini, peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga informasi yang didapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu untuk menjawab masalah penelitian. Penyajian data yang baik merupakan satu langkah penting menuju tercapainya analisis kualitatif valid dan handal. Dalam melakukan penyajian data tidak semata-mata mendeskripsikan secara naratif, akan tetapi disertai proses analisis yang terus menerus sampai proses penarikan kesimpulan. Langkah berikutnya dalam proses analisis data kualitatif adalah menarik kesimpulan berdasarkan temuan dan melakukan verifikasi data.
  4. Menarik kesimpulan atau verifikasi
  5. Tahap ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari semua data yang telah diperoleh sebagai hasil dari penelitian. Penarikan kesimpulan atau verifikasi adalah usaha untuk mencari atau memahami makna/arti, keteraturan, pola-pola, penjelasan, alur sebab akibat atau proposisi. Sebelum melakukan penarikan kesimpulan terlebih dahulu dilakukan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi dari kegiatan-kegiatan sebelumnya. Sesuai dengan pendapat Miles dan Huberman (1992), proses analisis tidak sekali jadi, melainkan interaktif, secara bolak-balik diantara kegiatan reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan atau verifikasi selama waktu penelitian. Setelah melakukan verifikasi, maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yang disajikan dalam bentuk narasi. Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dari kegiatan analisis data. Penarikan kesimpulan ini merupakan tahap akhir dari pengolahan data.
  6. Untuk memberikan gambaran data hasil penelitian, maka dilakukan prosedur sebagai berikut:
    1. Tahap penyajian data-data disajikan dalam bentuk deskripsi yang terintegrasi.
    2. Tahap komparasi: merupakan proses membandingkan hasil analisis data yang telah deskripsikan dengan interprestasi data untuk menjawab masalah yang diteliti. Data yang diperoleh dari hasil deskripsi akan dibandingkan dan dibahas berdasarkan landasan teori.
    3. Tahap penyajian hasil penelitian: tahap ini dilakukan setelah tahap komparasi, yang kemudian dirangkum dan diarahkan pada kesimpulan untuk menjawab masalah yang telah dikemukakan peneliti.
Jual Beli Emas Kredit Menurut Hukum Islam
Jual Beli Emas Kredit Menurut Hukum Islam

III. Pembahasan Jual Beli Emas Kredit Menurut Hukum Islam

Analisis Pembiayaan Cicil Emas di KCP Bogor Sudirman.

BSM Cicil Emas adalah fasilitas yang disediakan oleh Bank Syariah Mandiri untuk pembiayaan kepemilikan berupa emas batangan dengan jangka waktu 1 sampai 5 tahun dengan cara mencicil. Pengikatan (akad) menggunakan akad Murabahah dan Rahn. Uang muka (DP) 20% dengan jumlah pembiayaan maksimal 250 juta. Produk BSM Cicil Emas di BSM KCP Bogor Sudirman produk dalam bentuk emas batangan Logam Mulia Antam bersertifikat. Emas batangan ini dianggap lebih tepat sebagai produk pilihan untuk masyarakat dalam berinvestasi karena harga emas batangan setiap tahunnya meningkat.

Emas perhiasan biasanya harganya menjadi mahal karena adanya tambahan biaya pembuatan perhiasan tersebut, sedangkan dalam jual beli emas investor harus memperhatikan nilai tambah dan nilai kunci dari emas tersebut, seperti nilai karat. Jika emas perhiasan biasanya mudah dicampur dengan campuran logam lain sehingga kadar emas sudah berkurang, berbeda dengan emas batangan yang tanpa campuran logam lain dan memiliki nilai kadar yang sama. Selain dari tingkat karatnya, terdapat sertifikat yang dapat disertakan dalam proses penjualan hal itu yang menjadi pertimbangan nasabah untuk melakukan pembiayaan cicil emas karena nilai jualnya selalu meningkat tiap tahunnya.

Keunggulan Produk BSM Cicil Emas sangat banyak, di antaranya sebagai berikut:

  1. Aman. Maksud dari aman itu sendiri adalah emas dapat diasuransikan apabila menjadi kerusakan atau pencurian, emas tersebut bisa diganti.
  2. Menguntungkan. Tarif yang kompetitif, maksudnya harga emas setiap tahunnya yang selalu meningkat menjadikan emas sebagai media investasi yang menguntungkan.
  3. Layanan yang professional. Bank Syariah Mandiri merupakan perusahaan terpercaya dengan kualitas layanan terbaik,,serta emas dapat diuangkan dengan cara dijual atau digadaikan.
    Mekanisme Produk Pembiayaan Cicil Emas di KC Sudirman Bogor.
  4. Landasan Hukum Pembiayaan Cicil Emas.
    1. Undang-undang No. 21 Tahun 2008 tanggal 16 Juli 2008 tentang Perbankan Syariah berikut perubahannya.
    2. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 14/POJK.03/2014 tentang penilaian Kualitas Aset Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah berikut perubahannya.
    3. Peraturan Bank Indonesia No. 13/23/PBI/2011 tanggal 2 November 2011 tentangf Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah berikut perubahannya.
    4. Peraturan Bank Indonesia No. 10/17/PBI/2008 tanggal 25 September 2008 tentang Produk Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah berikut perubahannya.
    5. Surat Edaran OJK No. 12/SEOJK.07/2014 tentang Penyampaian Informasi dalam Rangka Pemasaran Produk dan/atau Layanan Jasa Keuangan berikut perubahannya.
    6. Surat Edaran BI No. 14/16/DPbs tanggal 31 Mei 2012 tentang Produk Pembiayaan Kepemilikan Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah berikut perubahannya.
    7. Surat Edaran BI No. 10/31/DPbs tanggal 7 Oktober 2008 tentang Produk Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah berikut perubahannya.
    8. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN/MUI/VI/2000 tentang pembiayaan murabahah.
    9. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 77/DSN-MUI/V/2010 tanggal 3 Juni 2010 tentang Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai.
    10. Opini Dewan Pengawas Syariah BSM No. 14/04/DPS/XI/2012 tanggal 1 November 2012 tentang Pembiayaan Kepemilikan Emas.
    11. Kebijakan Manajemen Risiko PT Bank Syariah Mandiri.
    12. Kebijakan Sistem Pengendalian Intern PT Bank Syariah Mandiri.
    13. Kebijakan Pembiayaan PT Bank Syariah Mandiri.
  5. Syarat dan Kriteria Nasabah. Untuk melakukan pembiayaan cicil emas di Bank Syariah Mandiri ada beberapa syarat dan kriteria yang perlu dipenuhi oleh calon nasabah. Untuk kriteria umum calon nasabah yang akan melakukan pembiayaan cicil emas yaitu : nasabah harus cakap hukum atau mengerti tentang hukum, nasabah merupakan Warga Negara Indonesia (WNI), dan usia nasabah adalah minimal 21 tahun atau sudah menikah pada saat pengajuan pembiayaan, nasabah tidak termasuk daftar hitam BI atau PPATK dan juga nasabah harus memiliki kolektibilitas lancar di semua bank.
  6. Selain kriteria tersebut di atas yang harus dipenuhi oleh nasabah, ada beberapa syarat untuk pengajuan permohonan pembiayaan Cicil Emas, yaitu:
  7. a. Mengisi formulir Permohonan Pembiayaan Cicil Emas
  8. b. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  9. c. Foto Pemohon 3×4
  10. d. Surat Keterangan Kerja (Asli)
  11. e. Surat Keterangan penghasilan atau surat gaji dan/atau surat keterangan usaha.
  12. f. Surat kuasa kepada bank untuk mendebet rekening tabungan BSM nasabah di Bank Syariah Mandiri guna pembiayaan angsuran setiap bulannya.
  13. g. Fotocopy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) untuk permohonan pembiayaan di atas Rp. 50.000.000.
Jual Beli Emas Kredit Menurut Hukum Islam
Jual Beli Emas Kredit Menurut Hukum Islam

Analisis Jual Beli Emas secara Kredit menurut Perspektif Hukum Islam.

Pendapat para ulama tentang jual beli emas sebagaimana yang dikutip oleh M. Ichwan Sam dalam bukunya “Himpunan Fatwa Keuangan Syariah), antara lain:

  1. Syaikh Ali Jumu‟ah, mufti al-Diyar al- Mishriyah, al-Kalim al-Thayyibah Fatawa „Ashriyah, al-Qahirah: Dar al-Salam, 2006, h. 136: “boleh jual beli emas dan perak yang telah dibuat atau disiapkan untuk dibuat dengan angsuran pada saat ini di mana keduanya tidak lagi diperlakukan sebagai media pertukaran di masyarakat dan keduanya telah menjadi barang (sil‟ah) sebagaimana barang lainnya yang diperjualbelikan dengan pembayaran tunai dan tangguh. Pada keduanya tidak terdapat gambar dinar dan dirham yang dalam (pertukarannya) diisyaratkan tunai dan diserahterimakan sebagaimana dikemukakan oleh hadits Riwayat Abu Sa‟id al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jangan kalian menjual emas dengan emas yang gha‟ib (tidak diserahkan saat ini) dengan emas yang tunai.” (HR. Al-Bukhari). Hadits ini mengandung illat bahwa emas dan perak merupakan media pertukaran dan transaksi di masyarakat. Ketika saat ini kondisi itu telah tiada, maka tiada pula hukum tersebut, karena hukum berputar (berlaku) bersama dengan „illat, baik ada maupun tiada. Atas dasar itu, maka tidak ada larangan syara‟ untuk menjualbelikan emas yang telah dibuat atau disiapkan untuk dibuat dengan angsuran.
  1. Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam “al- Muamalat al-Maliyah al-Mu‟ashirah” (Damasyq). Berdasarkan rapat pleno fatwa DSN- MUI pada hari kamis, tanggal 20 Jumadil Akhir 1431 H/03 Juni 2010 antara lain sebagai berikut:\
    1. Hadis-hadits Nabi yang mengatur pertukaran (jual beli) emas dengan perak, perak dengan perak, serta emas dengan perak atau sebaliknya, mensyaratkan antara lain agar pertukaran itu dilakukan secara tunai; dan jika dilakukan secara tidak tunai, maka ulama sepakat bahwa pertukaran tersebut dinyatakan sebagai transaksi riba; sehingga emas dan perak dalam pandangan ulama dikenal sebagai amwal ribawiyah (harta ribawi).
    2. Jumhur ulama berpendapat bahwa ketentuan atau hukum dalam transaksi sebagaimana dikemukakan dalam poin a di atas merupakan ahkam mu‟allalah (hukum yang memiliki „illat); dan illatnya adalah tsamaniyah, maksudnya bahwa emas dan perak pada masa wurud hadis merupakan tsaman (harga, alat pembayaran atau pertukaran, uang)
    3. Uang yang dalam literatur fiqh disebut dalam tsaman atau nuqud (jamak dari naqd) didefinisikan oleh para ulama, antara lain, sebagai berikut: “Naqd (uang) adalah segala sesuatu yang menjadi media pertukaran dan diterima secara umum, apapun bentuk dan dalam kondisi seperti apa pun media tersebut. (Abdullah bin Sulaiman al-Mani; Buhuts fi al-Iqtishad al- Islami, Mekah: al-Maktab al- Islami, 1996, h. 178) Naqd adalah sesuatu yang dijadikan harga (tsaman) oleh masayarakat, baik terdiri dari logam atau kertas yang dicetak maupun dari bahan lainnya, dan diterbitkan oleh lembaga keuangan pemegang otoritas.” Muhammad Rrawas Qal‟ah Ji, al-Mu‟amalat al -Maliyah al-Mu‟asyirah fi Dhau‟ al- Fiqh wa al-Syari‟ah, Beirut: Dar al-Nafa‟is, 1999, h. 23).
    4. Dari definisi tentang uang di atas dapat dipahami bahwa sesuatu, baik emas, perak maupun lainnya termasuk kertas, dipandang atau berstatus sebagai uang hanyalah jika masyarakat menerimanya sebagai uang (alat atau media pertukaran) dan berdasarkan pendapat Rawas Qal‟ah Ji- diterbitkan atau ditetapkan oleh lembaga pemegang otoritas. Dengan kata lain, dasar status sesuatu dinyatakan sebagai uang adalah adat (kebiasaan atau perlakuan masyarakat).
    5. Saat ini masyarakat dunia tidak lagi memperlakukan emas dan perak sebagai uang, tetapi memperlakukannya sebagai barang (sil‟ah). Demikian juga, Ibnu Taymiyah dan Ibnu al- Qayyim menegaskan bahwa jika emas dan perak tidak lagi difungsikan sebagai uang, misalnya telah dijadikan perhiasan, maka emas atau perak tersebut berstatus sama dengan barang (sil‟ah)
    6. Berdasarkan hal tersebut di atas dan dengan memperhatikan kaidah ushul al-fiqh dan kaidah fiqh sebagaimana dikemukan pada bagian mengingat angka 3, maka saat ini syarat-syarat atau ketentuan hukum dalam pertukaran emas dan perak ditetapkan oleh Nabi, tidak berlaku lagi dalam pertukaran emas dengan uang yang berlaku saat ini.

Dijelaskan bahwa ada tiga ketentuan dalam jual beli emas yang dilakukan secara tidak tunai:

  1. Harga jual (tsaman) tidak boleh bertambah selama jangka waktu perjanjian meskipun ada perpanjangan waktu setelah jatuh tempo.
  2. Emas yang dibeli dengan pembayaran tidak tunai boleh dijadikan jaminan (rahn).
  3. Emas yang dijadikan jaminan sebagimana dimaksud dalam angka 2 tidak boleh diperjualbelikan atau dijadikan objek akad lain yang menyebabkan perpindahan kepemilikan.

Tinggalkan komentar