Wayang dan Strategi Dakwah Wali Songo

Photo of author
Written By Najib

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur pulvinar ligula augue quis venenatis. 

Pengertian Wayang

Kata wayang dalam bahasa Jawa Kuna berarti “bayangad’ dan wayang berarti “manusid’, secara istilah wayang adalah aktor-aktornya berupa boneka yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau yang dimainkan oleh seorang dalang. Sedangkan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia wayang adalah boneka tiruan yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu yang dapat untuk memerankan tokoh dalam drama tradisonal (Jawa, Bali, Sunda) yang biasanya dimainkan oleh seseorang yang dinamakan dalang.

Unsur-Unsur Wayang

  • Blencong yaitu lampu yang digunakan untuk pertunjukan wayang dimalam hari yang digantung untuk memberikan pencahayaan.
  • Kelir yaitu layar putih yang membentang diantara wayangwayang yang dipajang.
  • Dalang yaitu seseorang yang memainkan wayang-wayang pada sebentang kelir.
  • Gamelan yaitu seperangkat alat musik tradisional Jawa yang dimainkan untuk mendampingi pertunjukan wayang.
  • Wayang yaitu boneka yang dibuat dari kulit sapi atau kerbau yang dimainkan oleh dalang dengan lakon atau cerita tertentu.
Wayang
Wayang

Tokoh-Tokoh Pewayangan

  • Yudistira seorang tokoh yang memiliki sifat dermawan atau didalam istilah Jawa sering disebut dengan Wa donya Ian paff artinya mengikhlaskan harta, benda, dan bahkan nyawanya sendiri dikorbankannya.
  • Kresna seorang tokoh yang memiliki sifat memelihara alam semesta, politikus yang cerdas dan sakti mandraguna.
  • Baladewa seorang tokoh yang memiliki sifat emosional, namun juga memiliki sifat yang tegas dan jujur.
  • Karna seorang tokoh yang memiliki sifat yang kesatria sejati yang tidak suka ingkar janji.
  • Bisma seorang tokoh yang arif dan bijaksana
  • Bima seorang tokoh yang memiliki sifat pemberani, jujur dan kokoh dalam pendirian. Memiliki sifat yang baik untuk selalu menghargai pada sesama dan melindungi rakyat kecil.
  • Arjuna seorang tokoh kesatria yang memiliki sifat lembut, arif, dermawan
  • Sadewa seorang tokoh yang memiliki sifat cerdas dan mengetahui sesuatu hal yang bakal terjadi, ngefti sak durunge winarah
  • Hanoman seorang tokoh yang memiliki kesaktian dan ajian maundri yang wujudnya seperti kera dan diangkat dalam panglima perang untuk melawan musuhnya.
  • Semar yaitu seorang tokoh yang memiliki kepribadian yang baik, selalu mengajarkan ilmu-ilmu kearifan pada keluarga pendawa dan dijadikan sebagai penasehat dalam kerajaan dan dalam keluarga pendawa.

Walisongo dan Wayang

Wayang yang semula merupakan budaya masyarakat Jawa sebagai sarana pemujaan dan penghormatan terhadap arwah nenek moyang dijadikan media oleh para wali dalam menjalan misi dakwah İslam. Sunan Kalijaga adalah salah satu dari Wali Songo yang menyebarkan Agama Islam di Jawa, Sunan Kalijaga merupakan wali yang lebih suka berdakwah dengan menggunakan sarana kesenian dan kebudayaan dalam berdakwah.
Sunan Kalijaga yang mempunyai nama asli Raden Said berpandangan bahwa dakwah harus disesuaikan dengan situasi,kondisi dan adat istiadat setempat.

Kebiasaan rakyat yang berbau Hindu dan Budha tidak langsung diberantas, melainkan dengan perlahan-lahan (a/ona/on waton ke/akon) memberi warna baru pada budaya lama dan mengisinya dengan nilai-nilai yang İslami, dan akhirnya memilih wayang sebagai media dakwahnya. Cara yang dilakukan Sunan Kalijaga bersesuaian dengan cara terang-terangan dihadapan masyarakat Jawa

yang ketika itü masih mendapat pengaruh ajaran yang terdahulu Hindu dan Budha, yang hal ini sesuai dengan ayat Alquran .

Artinya : Maka sampaikan/ah o/ehmu secara terang-terangan sega/a apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpa/ing/ah dari orang-orang yang musyrik.
Ayat di atas menjelaskan dakwah yang dilakukan Rasul secara terangterangan itulah yang dijadikan landasan dakwah Sunan Kalijaga sebagai mana yang ditulis oleh imam Anom yaitu :

“Badarina dipun kadi wayang, kinudang aneng enggone, padange b/encongipun ngibarate panggunggirake, damare ditya wu/an, kefir alam suwung ingkang nenggo cipto, keboh bumi tetepe adege ringgit, sinangga maring nanggap ‘

Artinya anggaplah ragamu wayang yang digerakkan di tempatnya, terangnya blencong ibarat kehidupanmu, lampunya bulan purnama, layarnya ibarat jagad raya yang sepi dan kosong yang selalu menunggununggu buah kreasi manusia, batang pisang ibarat bumi tempat mukimnya manusia, hidupnya ditunjang oleh yang nanggap.

Berdasarkan hal tersebut, Sunan Kalijaga mencoba mengumpamakan wayang dengan kehidupan manusia yang selalu dituntut untuk berkreasi dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi ini, dan senantiasa sadar akan sinangga maring nanggap kehidupannya diatur dan dalam halhal tertentu seperti mati, jodoh, dan rezeki.

Walisongo memodifikasi konsep ka/imah shad7′ yang artinya “jimat kafi maha usad7′ yang bernuansa teologi Hindu menjadi bermakna “azimah ka/imat syahadat’. Kalimat yang terakhir merupakan pernyataan seseorang tentang keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keyakinan tersebut merupakan spirit hidup dan penyelamat kehidupan bagi setiap orang. Dalam cerita pewayangan, walisongo tetap menggunakan kalimat tersebut untuk mengibaratkan senjata terampuh bagi manusia. Hanya saja, dalam perspektif Hindu, jimat tersebut diwujudkan dalam bentuk benda atau simbolik yang dianggap sebagai pemberian dewa, maka walisongo

mendesakralisasi formula tersebut sehingga sekedar sebagai pernyataan tentang keyakinan terhadap Allah dan rasul-Nya.

Dalam perspektif Islam, ka/imah syahadah sebagai kunci syurga yang berarti formula yang akan mengantarkan manusia menuju keselamatan di dunia dan akhirat, maksudnya syahadat tersebut dalam perspektif Islam mempunyai kekuatan spritual bagi yang mengucapkannya. Hal ini merupakan pernyataan seorang Muslim untuk hidup dengan teguh memegangi prinsip-prinsip ajaran Islam sehingga meraih kesuksesan hidup dunia dan akhirat. Pemaknaan baru tersebut tidak akan mengubah pakem cerita tetapi telah mampu membangun nilainilai Islam dalam cerita pewayangan.

Wayang
Wayang

Walisongo menggunakan wayang untuk membangun konstruksi sosial yakni membangun masyarakat yang beradab dan berbudaya. Untuk membangun arah yang berbeda dari pakem asli pewayangan, walisongo menambahkan dari cerita pakem pewayangan dengan plot yang berisi visi sosial kemasyarakatan Islam, baik dari sistem pemerintahan, hubungan bertetangga hingga pola kehidupan keluarga dan pribadi. Untuk tujuan tersebut, walisongo memunculkan figur-figur baru yang sebenarnya tidak ada dalam kisah asli Mahabrata ataupun Ramayana.

Figur-figur yang paling dikenal luas adalah punakawan yang berarti mentor yang bijak bagi para pendawa. Walisongo banyak memperkenalkan ajaran-ajaran Islam (aqidah, syariah, akhlak) melalui alur cerita yang dibangun berdasarkan perilaku punakawan tersebut. Punakawan tersebut adalah Semar, Nala Gareng, Togog, Petruk, dan Bagong sebagai satu-kesatuan sebenarnya mempresentasikan karakteristik kepribadian muslim yang ideal

  1. Semar berasal dari kata ismar yang berarti seseorang yang mempunyai kekuatan fisik dan psikis. Ia sebagai representasi seorang mentor yang baik bagi kehidupan, bagi raja maupun masyarakat secara umum.
  2. Togog yaitu seorang ulama yang selalu bercerita mengenai perbuatan-perbuatan buruk serta akibat yang akan dirasakan jika melakukan perbuatan buruk.
  3. Na/a Gareng berasal dari kata na/a qarin yang berarti seseorang yang mempunyai banyak teman, ia merupakan seorang yang pandai bergaul, tidak egois, dan berkepribadian menyenangkan sehingga ia mempunyai banyak teman.
  4. Petruk berasal dari kata fatruk ma sivva A//ah yang berarti seorang yang berorientasi dalam segala tindakannya kepada Allah. la mempresentasikan orang yang konsen sosial yang tinggi dengan dasar kecintaan kepada Allah.
  5. Bagong berasal dari kata bagha yang berarti menolak segala hal yang bersifat buruk atau jahat, baik yang berada di dalam diri sendiri maupun dimasyarakat.
    Karakter-karakter punakawan tersebut cukup mempersentasikan aspirasi walisongo tentang kepribadian seorang Muslim dengan segala macam kedudukannya. Dalam hal ini tokoh yang paling berpengaruh dalam Islam adalah tokoh pewayangan yang bernama Semandan Togog . Semar sebagai seorang guru dan Togog adalah seorang ulama sehingga mereka memiliki kemampuan untuk memilih hal-hal yang baik dan buruk seperti
  6. Memilih guru yang baik untuk mengajarakan ilmunya agar menjadi bermartabat dan memiliki kehormatan sebagai manusia serta mengerti tata aturan kehidupan beserta hükumhükum yang mengajarkan perilaku kebajikan. Taat beribadah kepada Tuhan yang telah menciptakan kehidupan ini, tidak memandang kehidupan berdasarkan kepemilikan materi dunia sehingga kesederhanaan dalam tingkah laku sosial justru diharapkan menjadi landasan hidup yang berwibawa.
  7. Tidak mengotori batin, yaitu dengan menghindari perilaku buruk seperti berjudi, mencuri, mengumbar nafsu, yang mengakibatkan keengganan mendengarkan nasehat demi kemaslahatan dirinya sendiri.

Tinggalkan komentar